Sekilas tentang Smart Class

Ilustrasi Kelas (Sumber: Pixabay/fudowakira0)

Saat tulisan ini di tulis, dalam dunia pendidikan, ramai diperbincangkan hal yang disebut sebagai Smart Class.

Sampai-sampai Samsung membuat sebuah produk yang disebut sebagai Samsung Smart Learning Class, yang salah satunya berada di Brawijaya Smart School Universitas Brawijaya (BSS UB).

Kemudian apa yang disebut dengan Smart Class itu sendiri? Apakah menggunakan Smartphone, tablet, TV atau device smart lainnya dalam belajar mengajar termasuk yang disebut Smart Class?

Samsung Smart Learning Class BSS UB

Menurut Sugeng Rianto, mantan direktur BSS UB, Smart Class sebenarnya tidak harus menggunakan device berlabel smart untuk tahapan belajar mengajar.

Namun lebih tepatnya adalah cara belajarnya.

Dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada, otak manusia dapat lebih hemat untuk digunakan memikirkan hal yang lain.

Dengan kata lain, memikirkan apa saja yang perlu dipikirkan.

Contohnya problem perhitungan matematika, dengan adanya kalkulator, seperti Algebra Equation Calculator, otak manusia dapat digunakan untuk memikirkan ilmu atau hal lain yang lebih penting.

Sehingga untuk implementasi disekolah, tugas guru adalah mengarahkan siswa, agar dapat membagi dan menyelesaikan sesuai spesifikasi masalah yang mereka hadapi masing-masing, dengan menggunakan bantuan-bantuan teknologi yang sudah ada.

Kemudian, apakah konsep Smart Class ini tidak termasuk "pembodohan"?

Mungkin pada sebagian orang yang lebih menyukai original idea, akan menentang konsep yang dibawa dalam Smart Class ini.

Dengan hanya menggunakan apa yang sudah ada, bukan menciptakan sesuatu yang baru, maka akan menumbuhkan sifat individu yang pemalas dan konsumtif.

Tetapi jika dipikir ulang, apakah setiap orang istimewa dan mampu mewujudkan original ideanya masing-masing.

Untuk memahami lebih lanjut konsep Smart disini, dapat dipelajari contoh dibawah ini.

Misalnya sebuah handphone.

Penulis yakin handphone tidak dibuat oleh satu orang saja mulai dari nol. Handphone adalah hasil karya, kerjasama banyak orang, bahkan beberapa generasi.

Pembuat handphone, pasti awal kali ketika dia mendesain handphonenya, dia tidak menciptakan resistor, capacitor, processor ataupun baterainya sendiri.

Dan untuk mendukung pembuatan handphonenya itu, dia pasti akan membutuhkan ahli dibidangnya, jika si pembuat handphone membutuhkan bahan atau alat yang berbeda dengan yang ada dipasaran.

Disinilah sebenarnya letak konsep dasar Smart Class itu. Setiap orang, harus menjadi smart dalam satu bidang saja, apapun itu.

Jika suatu problem sudah dipecahkan oleh orang lain, maka orang lain lebih baik memikirkan untuk menyelesaikan problem lain.

Sama halnya dengan produk, jika suatu produk telah dihasilkan oleh orang atau kelompok lain, alangkah baiknya seseorang membuat product baru, atau menghimpun product-product yang sudah ada, menjadi suatu product baru dan lebih hebat.

Oleh karena itu, kesimpulannya, konsep mengajar dengan metode Smart Class ini. Tergantung kepada sudut pandang siapa, dan pihak yang melihat apa itu Smart Class. Untuk orang yang menyukai original idea, metode Smart Class dapat menganggapnya negatif.

Sedangkan untuk project atau pekerjaan yang membutuhkan waktu cepat, metode ini dapat menjadi pilihan, karena setiap orang hanya perlu menjadi smart dalam satu bidang saja.

Comments

Polling

Praktikumvirtual.com mengajak pengunjung untuk mengisi polling, untuk mengetahui tingkat kepercayaan orang tua terhadap anaknya menggunakan smartphone.

Polling singkat tersebut dapat diisi pada link berikut ini:
Penggunaan Smartphone pada Anak Usia Sekolah

Praktikumvirtual.com berharap dengan polling ini dapat meningkatkan layanan, dalam menghasilkan produk-produk pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak, guru, sekolah dan orang tua berbasis app dan games.

Popular posts from this blog

Aplikasi Dial Caliper untuk Belajar Membaca Skala Caliper

Belajar Gambar dan Arti Rambu-rambu Lalu Lintas

Praktikum Pengukuran menggunakan Micrometer Scrub